Tampilkan postingan dengan label Artikel Pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pramuka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

Sudahkah Berbuat Baik pada Diri Sendiri???

Tolong tanyakan pada dirimu, sampai saat ini, kebaikan apa yang telah kau berikan pada dirimu sendiri? Bagi tubuh dan Rohanimu…Atau justru telah meracuninya selama ini? Begitu, bunyi batinku pagi ini…..Sebuah pertanyaan yang malu untuk aku menjawabnya!



Suatu hari saya membaca sebuah tulisan di Kompas cetak dengan judul yang cukup mengelitik hati saya, ‘JK INGIN TERUS BERBUAT BAIK UNTUK BANGSA’. Tentunya kita semua sudah tahu siapa JK? Yakni bapak Jusuf Kalla mantan wakil presiden kita, yang baru saja berakhir masa tugasnya. Bapak Jusuf Kalla seperti kita tahu sangat berperan sekali dalam perdamaian di bebera wilayah di negeri kita yang dilanda kekacauan. Dari Aceh, Palu sampai Ambon. Beliau mengatakan walau sudah tidak menjadi wakil presiden lagi akan tetap berbuat yang terbaik untuk bangsa ini melalui bidang ekonomi, sosial dan keagamaan. Suatu keinginan yang mulia tentunya dan kita patut mendoakan.

Sekarang giliran aku untuk bertanya, perbuatan baik apa yang telah aku lakukan untuk bangsa ini? Rasanya tak ada jawaban yang bisa aku berikan, kecuali hanya bisa geleng-geleng kepala dan kemudian tertunduk malu. Jangankan untuk bangsa, untuk memberikan kebaikan kepada diri sendiri saja belum bisa sempurna, baik jasmani maupun rohani. Apakah selama ini aku sudah berbuat baik bagi tubuhku dengan menjaganya dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya dan seharusnya? Memberikan makanan yang bergizi dan sehat, bukan justru meracuninya dengan memberikan makanan yang tidak berguna?

Tanpa sadar selama ini demi kenikmatan lidah dan memuaskan keinginan, aku memasukan makanan - makanan yang hanya enak dan mengundang selera tapi tidak bermanfaat bagi kesehatan malahan bisa menurunkan kesehatan. Meminum minuman keras dan merokok contohnya. Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merusak dan membahayakan tubuh ini, begadang dan berkelahi misalnya.


Dimana selama ini juga aku lebih seringkali memberi makanan yang beracun kepada rohaniku dengan bacaan-bacaan , tontonan, penglihatan dan pikiran yang sesat dan kotor daripada memberinya santapan berupa firman-firman Tuhan dan kegiatan yang memberi pengaruh positif yang bisa membangun dan memperkuat rohaniku! Jadi, langkah pertama untuk menuju kepada perbuatan baik yang lebih besar adalah dengan memulainya berbuat baik dulu pada diri sendiri, dengan selalu menjaga kesehatan jasmani dan rohani . Setelah itu pasti banyak kebaikan lainnya yang bisa aku perbuat. Seringkali kita lebih memperhatikan hal- hal diluar dari diri kita dan hanya ingin melakukan hal yang besar.

Padahal apa yang ada pada diriku yang seharusnya lebih diperhatikan dan mulai mau mencoba melakukan hal-hal yang kelihatan kecil, namun sesungguhnya memberi pengaruh yang besar sekali. Sebuah senyuman! Siapa yang tidak bisa tersenyum? Berikan senyummu _ mulailah berikan pada dirimu , lalu kepada siapa saja dan dimana juga_, ia tanpa memerlukan biaya dan tenaga, tak akan pernah habis walau terus diberikan , ia hanya butuh sebuah ketulusan .

Semoga kesadaran ini selalu memberi inspirasi dan mengingatkan aku! Mulailah, lakukan kebaikan pada diri sendiri terlebih dahulu, sehingga mempunyai keyakinan untuk melakukan kebaikan bagi orang lain.
Semoga renungan ini memberikan kekuatan padaku untuk menjadi lebih baik lagi!
read more “Sudahkah Berbuat Baik pada Diri Sendiri???”

Rabu, 06 Oktober 2010

BELAJAR MENCINTAI SESAMA

Dalam suasana tanah air yang serba panas dewasa ini patut dikenang seorang anak dunia yang lahir hampir 150 tahun lalu. Anak dunia itu lahir pada tanggal 22 Februari 1857 dari keluarga Reverend Baden-Powell, seorang guru besar dari Oxford University di Inggris. Anak itu adalah laki-laki keenam dari delapan anak laki-laki dari sepuluh bersaudara. Anak itu, dengan mengacu kepada kakeknya, diberi nama Robert Stephenson Smyth Baden-Powell.

Robert ini di masa kecilnya cukup menderita karena sudah menjadi piatu pada usia tiga tahun ketika ayahnya meninggal dunia. Kehidupannya banyak diwarnai oleh kelembutan ibunya, anggota masyarakat biasa yang tidak kaya, tetapi mengasuh Robert dengan penuh kasih sayang. Robert tumbuh sebagai anak cerdas yang mempunyai minat dan semangat yang tinggi untuk selalu belajar hal-hal yang baru. Robert senang bermain dengan permainan advonturir yang mendebarkan hati, tetapi hatinya lembut karena ternyata iapun suka bermain piano.

Robert tumbuh seperti anak-anak muda lainnya dan dalam kehidupannya selama sekolah senang bertualang, menelurusuri sungai Thames dan sering menjadi teladan teman-teman bermainnya. Kehidupan remaja ini membekas dan menjadi sangat berguna ketika Robert memasuki karier sebagai tentara dalam jajaran pemerintah Inggris.

Dalam kariernya sebagai tentara Robert Baden-Powell mencapai kariernya dengan relatif cepat. Pada usia 30 tahun dia sudah menyandang pangkat Kolonel Kehormatan. Dia ditugaskan di India, Afganistan dan Afrika Selatan. Pada tahun 1899 Robert ditugaskan di Mafeking, suatu tugas yang kemudian melejitkan namanya serta mengangkat dirinya menjadi Mayor Jendral pada usia hanya 43 tahun.

Karier yang sangat menanjak itu melambungkan namanya dan membuat dirinya menjadi idola anak muda biarpun dia sendiri bersifat rendah hati atas peranan pribadinya. Robert sangat menghargai peranan generasi muda yang bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan. Robert menerbitkan buku dan dalam waktu sangat singkat buku dan tulisannya mendapat sambutan yang sangat luar biasa.

Setelah keberhasilan yang gemilang di Mafeking, Robert diberi tanggung jawab mengembangkan Angkatan Kepolisian Afrika Selatan sampai akhirnya pada tahun 1903 ia memutuskan untuk kembali ke negaranya sebagai Inspektur Jenderal. Robert sangat terkejut karena buku dan tulisannya sangat digermari oleh generasi muda di negaranya yang kebetulan pada waktu itu berada dalam masa transisi antara masyarakat agraris dan masyarakat industri. Karena itu Robert Baden-Powell memutuskan untuk lebih aktif mengembangkan generasi muda menjadi warga negara yang baik.

Pengalaman melalang buana di berbagai negara, dan melihat keadaan anak muda dan remaja di negaranya yang gelisah itu, menjadi panggilan suci untuk membangun generasi muda yang tangguh, berkepribadian dan siap menjadi warga yang baik. Panggilan itu sangat nyaring sehingga Robert memutuskan untuk berjuang membangun generasi muda yang tangguh dan mempunyai partisipasi yang tinggi dalam membangun kepribadian dan cinta kepada sesamanya untuk membangun negara dan bangsanya.

Lebih lanjut dalam kerja luhur itu, dalam beberapa catatan pribadinya, Robert Baden-Powell selalu mengingatkan bahwa generasi muda harus selalu siap menghadapi tantangan. Persiapan itu harus disertai pengembangan kepribadian yang simpatik, sabar, bersikap ria dan tidak cepat marah, memberi waktu kepada sesama dan dengan senang hati saling memberi bantuan kepada sesamanya.

Dalam gerakan kepanduan yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, sampai sekarang, sifat-sifat kepribadian yang luhur itu menjadi acuan. Robert Baden-Powell selalu mengaku bahwa dia tidak memberi resep yang cespleng, karena diapun tidak percaya bahwa apa yang diajarkan akan selalu diterima dengan baik. Oleh karena itu sejak semula dia percaya kepada sistem pendidikan dengan kelompok kecil. Bahkan dia lebih percaya kepada usaha-usaha pendidikan dan pelatihan yang mengandalkan pada partisipasi aktif untuk mecoba dan mengalami karena dengan cara itu setiap anak dan remaja akan mengetahui dan menguasai pelaksanaan sesuatu yang dicobanya dengan mendalam.

Robert juga sadar bahwa ada kalanya sesuatu yang kita anggap baik bisa ditolak anak muda atau remaja. Bahkan sesuatu yang dianggap baik bisa saja berakhir dengan kegagalan. Tetapi dengan memberi kepercayaan kepada anak muda dan remaja untuk mencoba dan mengerjakannya, dengan cara mereka yang dianggap baik, banyak manfaat yang muncul berupa inovasi-inovasi yang tidak terbayangkan sebelumya. Pengalaman pendidikan seperti inilah barangkali yang sekarang perlu kita teladani di Indonesia.

Anak muda bangsa ini membengkak jumlahnya. Pendidikan kepanduan yang di masa lalu dilakukan dengan gegap gempita masih perlu ditingkatkan lagi. Pramuka yang karena alasan-alasan tertentu dikembangkan dengan basis sekolah telah menyebabkan banyak sekali, setidaknya 50 persen anak usia SMP yang tidak sekolah, ditambah 60 persen anak SMA yang tidak sekolah, yang sama sekali tidak memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan kepanduan seperti diwariskan oleh Robert Baden-Powell.

Dalam memperingati Hari Lahir Bapak Pandu Sedunia Robert Baden-Powell hari ini, kiranya para pemimpin merenung kembali keteladanan yang telah diwariskannya untuk menciptakan generasi muda yang berkepribadian, sopan santun dan mencintai sesamanya. Barangkali generasi muda tidak perlu harus selalu berkelahi karena alasan sepele. Tidak perlu saling menggempur dan merusak. Generasi muda harus selalu siap menghadapi tantangan, siap bekerja keras membangun negara dan bangsanya. (Haryono Suyono, Ketua Umum Hipprada) – 22Februari2006.

Views: 433
sUMBER : http://www.haryono.com/article/article/belajar-mencintai-sesama.html
read more “BELAJAR MENCINTAI SESAMA”

Selasa, 28 September 2010

Azrul Azwar: UU Gerakan Pramuka Sangat Mendesak



Polkam / Rabu, 22 September 2010 14:05 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia Azrul Azwar menegaskan, kebutuhan terhadap Undang-Undang Gerakan Pramuka saat ini sudah sampai ke tingkat sangat mendesak.

Karena itu, ia mengatakan studi banding yang saat ini dilakukan Panitia Kerja RUU Gerakan Pramuka DPR ke Jepang, Korea Selatan, dan Afrika Selatan, harus membawa pulang oleh-oleh berupa masukan yang cerdas dan konstruktif untuk menajamkan pembahasan draf RUU Gerakan Pramuka.

"Di samping model pengelolaan kepramukaan, kami juga berharap akan mendapatkan masukan komprehensif tentang landasan hukum yang memayungi gerakan kepramukaan di ketiga negara yang menjadi tujuan studi banding itu," kata Azrul Azwar di Jakarta, Rabu (22/9).


Terlepas dari pro dan kontra terkait pelaksanaan studi banding anggota DPR tersebut, Azrul mengingatkan, harus ada cara pandang yang sama dalam memaknai urgensi RUU Gerakan Pramuka. "Selama 49 tahun, pendidikan kepramukaan di Indonesia praktis dilaksanakan hanya dengan payung hukum Keputusan Presiden Nomor 238 tahun 1961. Sudah waktunya ditingkatkan jadi undang-undang," kata Azrul.

Azrul Azwar mengatakan, ada lima alasan yang menunjukkan bahwa UU tentang Gerakan Pramuka sangat mendesak. Pertama, terdapat nilai-nilai universal dan lokal yang diajarkan lewat pendidikan kepramukaan di seluruh dunia. Menurut dia, Indonesia sebagai negara multikultural, telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai nilai dasar sekaligus pengikat persatuan dan kesatuan bangsa.

"UU Gerakan Pramuka harus menjamin nilai dasar ini," katanya.

Kedua, pendidikan kepramukaan mengajarkan anak dan remaja menjadi pribadi yang jujur, berani, dan terampil serta menghasilkan kaum muda yang militan. Namun, militansi ini harus dikelola dengan baik, sehingga diabdikan terutama untuk bangsa dan negara, bukan untuk golongan.

"Untuk itu, UU Gerakan Pramuka harus menegaskan satu wadah untuk mengelola kepramukaan di Tanah Air," katanya.

Alasan ketiga, organisasi pramuka bertujuan membentuk generasi muda yang berkarakter, cinta Tanah Air dan memiliki keterampilan tinggi. "Tugas tersebut sesungguhnya merupakan ranah pemerintah. Karena itu, sudah semestinya pemerintah membiayai pendidikan kepramukaan di gugusdepan dan kwartir," ujar Azrul.

Keempat, terkait dengan posisi Gerakan Pramuka Indonesia sebagai salah satu anggota Organisasi Gerakan Pramuka Dunia. Dari 140 anggota badan organisasi kepramukaan sedunia saat ini, Indonesia memiliki jumlah anggota terbanyak, yaitu 17 juta. Ironisnya, Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur pendidikan kepramukaan seperti dimiliki oleh banyak negara lain.

Alasan kelima, pendidikan kepramukaan sangat penting dalam kaitan membentuk karakter bangsa. Logikanya, kalau dasar hukumnya cuma keputusan presiden, maka pengaturan dan dukungan pemerintah menjadi amat bergantung pada selera presiden yang sedang menjabat.

"Pada titik ini, UU Gerakan Pramuka diperlukan agar siapa pun presidennya akan mendukung gerakan kepramukaan," kata Azrul Azwar.

Panitia Kerja RUU Pramuka Komisi X pada 15 September bertolak ke Jepang, Korea Selatan, dan Afrika Selatan untuk melakukan studi banding. Keberangkatan studi banding tentang kepramukaan tersebut dibagi dalam dua rombongan. Kelompok pertama yang dipimpin ketua Panja Pramuka berangkat ke Jepang dan Korea Selatan. Rombongan kedua menuju Afrika Selatan.(Ant/BEY)
read more “Azrul Azwar: UU Gerakan Pramuka Sangat Mendesak”

'Pramuka perlu diatur oleh UU'



Oleh: John A. Oktaveri
JAKARTA: Ketua Kwarnas Pramuka Azrul Azwar mengatakan Pramuka di Indonesia yang hanya dilindungi oleh Keputusan Presiden (Kepres) tidak akan mampu membuat organisasi itu menjadi mandiri sehingga diperlukan Undang-undang untuk mengaturnya.

"Dengan Kepres, Pramuka tidak cukup kuat karena tergantung dari kebijakan presiden. Dengan memiliki undang-undang kita justru lebih kuat,"katanya pada satu diskusi di Gedung DPR hari ini.


Selain adanya undang-undang, Ketua Kwarnas itu juga menginginkan bahwa tidak ada lagi organisasi di dalam organisasi kepramukaan seperti Hizbul Waton dan sebagainya yang ingin berdiri sendiri.

Menurut dia, kepramukaan harus merupakan wadah tunggal yang kuat dengan undang-undang yang kuat pula.

"Pramuka itu di seluruh negara hanya satu, tidak ada dua. Bila banyak sepert itu, maka bangsa ini akan terkotak-kotak dan yang rugi bangsa Indonesia sendiri," tegasnya.

Sementara itu anggota DPR, Hakam Naja, mengatakan pramuka haruslah dipimpin oleh kalangan profesional dan bukan pejabat publik.

Menurut dia, kalau pramuka dipimpin oleh pejabat publik seperti Menteri Pemuda dan Olah Raga maka dikhawatirkan organisasi itu akan terseret ke dunia politik.

"Organisasi Pramuka haruslah menjadi organisasi mandiri dan tidak boleh diseret ke dunia politik. Untuk itu Pramuka harus dipimpin oleh pejabat yang bukan pejabat publik," ujarnya merujuk pada hasil kunjungan anggota DPR ke Jepang, Korea Selatan dan Afrika Selatan terkait pembuata RUU Kepramukaani.

Di beberapa negara, katanya, Pramuka atau lebih dikenal dengan scout tidak dipimpin oleh pejabat negara dan tidak berada di bawah kementerian. (su)
read more “'Pramuka perlu diatur oleh UU'”

Rabu, 15 September 2010

Negara Lain Justru Ingin Meniru Pramuka Indonesia


Jakarta - Di saat Panja Pramuka DPR sedang studi banding ke Afsel, negeri yang Pramukanya gagal, justru banyak negara lain ingin meniru Pramuka di Indonesia. Pramuka di Tanah Air memiliki anggota yang sangat banyak dibandingkan negara-negara lainnya, yakni sekitar 17 juta orang. Hal itulah yang menarik perhatian negara lain, sehingga mereka ingin meniru Pramuka Indonesia.

"Yang lain ingin tahu tentang Pramuka yang berbasis sekolah seperti yang banyak berkembang di Indonesia. Kalau di negara lain kebanyakan Pramuka itu berbasis komunitas," ujar Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Prof Dr dr Azrul Azwar kepada detikcom, Rabu (15/9/2010).

Menurut dia, jumlah anggota Pramuka Indonesia yang demikian besar adalah karena setiap pelajar otomatis menjadi anggota Pramuka. Selain karena jumlah penduduk Indonesia yang besar.

Selama ini, lanjut Azrul, Indonesia bersama kepanduan lain dari berbagai negara sering kali mengikuti pelatihan bersama. Di saat lain Indonesia dan negara-negara lain saling mengundang ketika digelar acara semacam jambore nasional.

"Dalam Pramuka sebenarnya tidak ada belajar hal baru dari negara lain, karena semuanya sebenarnya sama. Standar. Jadi yang ada adalah saling lihat, misalnya dengan mengikuti kegiatan mereka, ikut jambore mereka," tutur mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) ini.

Pramuka Indonesia, tambahnya, berapa kali mengirim beberapa anggotanya untuk mengikuti berbagai pelatihan. Misalnya saja pelatihan komunikasi di Bhutan dan pelatihan tentang community based. Jambore negara lain yang pernah diikuti Pramuka Indonesia antara lain Jambore di Korsel tahun 2010.

"Saat Jambore di Indonesia, bisa sampai 10 atau 15 anggota Pramuka dari negara lain yang ikut serta. Biasanya kita undang mereka. Kita undang yang dari ASEAN dan negara sahabat," kata Azrul.

(vit/nrl)

Sumber :http://www.detiknews.com/read/2010/09/15/120400/1440908/10/negara-lain-justru-ingin-meniru-pramuka-indonesia
read more “Negara Lain Justru Ingin Meniru Pramuka Indonesia”

Biaya Studi Banding Pramuka Sudah Diatur di SK Menkeu


Jakarta - Seluruh biaya perjalanan anggota Panja Pramuka Komisi X DPR yang pergi studi banding ke tiga negara sudah diatur di dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan. Biaya itu juga termasuk uang saku serta sewa hotel.

"Anggota DPR itu ke luar negeri sudah sesuai dengan aturan perjalanan dinas yang ada di SK Menkeu," jelas Ketua DPR Marzuki Alie di kantornya, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (15/9/2010).

"Jadi surat keputusan Menkeu sudah mengatur uang harian termasuk hotel di sana," lanjut Marzuki.

Marzuki berharap publik jangan keburu curiga dengan apa yang dilakukan oleh anggota Dewan. Untuk menyelesaikan sebuah RUU, anggota Dewan memerlukan banyak referensi. Selain itu, para legislator tersebut pergi dengan membawa Daftar Inventaris Masalah (DIM).

"Jangan dilihat mereka ke luar negeri sebagai pemborosan, mereka melakukan pengabdian kok," tegas Marzuki.

Marzuki meminta agar anggota Dewan akan menjelaskan berbagai polemik yang keburu muncul seiring keberangkatan mereka. "Kalau ada masalah, saya minta mereka jelaskan," ujar politisi PD ini.

Berdasarkan informasi situs resmi DPR, posisi pimpinan Panja Pramuka dipegang oleh Mahyuddin (FPD), Rully Chairul Azwar (FPG), Heri Akhmadi (FPDIP), dan Abdul Hakam Naja (FPAN).

Sementara anggota Panja adalah :

1. Parlindungan Hutabarat (FPD)
2. Theresia EE Pardede (FPD)
3. Venna Melinda (FPD)
4. Rinto Subekti (FPD)
5. Jefirstson R Riwu Kore.
6. Kahar Muzakir (FPG)
7. Zulfadhli (FPG)
8. Popong Otje Djunjunan (FPG)
9. Hetifah (FPG)
10.Puti Guntur Soekarno (FPDIP)
11.Utut Adianto (FPDIP)
12.Wayan Koster (FPDIP)
13.Sri Rahayu (FPDIP)
14.Akbar Zulfakar (FPKS)
15.Primus Yustisio (FPAN)
16.Reni Marlinawati (FPPP)
17.Hisyam Alie (FPPP)
18.Hanif Dhakiri (FPKB)
19.Noura Dian Hartarony (Fraksi Gerindra)
20.Herry Lontung Siregar (Fraksi Hanura)

(mok/nrl)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2010/09/15/130346/1440950/10/biaya-studi-banding-pramuka-sudah-diatur-di-sk-menkeu
read more “Biaya Studi Banding Pramuka Sudah Diatur di SK Menkeu”

Kwarnas Berharap Panja Pramuka DPR Selesaikan UU Usai Studi Banding


Jakarta - Panja Pramuka DPR sedang studi banding ke luar negeri. Kegiatan ini mendapat banyak sorotan. Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka berharap setelah Panja DPR menyelesaikan studi bandingnya, UU Pramuka bisa segera dibereskan.

"Silakan saja, itu bagian dari pekerjaan dia. Menurut saya sih baik saja belajar. Yang penting bagaimana paham dan bisa mengesahkan (UU)," ujar Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Prof Dr dr Azrul Azwar kepada detikcom, Rabu (15/9/2010).

Kata dia, jika Panja Pramuka DPR menganggap pengetahuannya tentang seluk beluk kepramukaan masih kurang dan ingin belajar, maka studi komparasi bisa dilakukan. "Kalau untuk perbaiki ya silakan," imbuhnya.

Soal negara tujuan studi banding, itu kewenangan DPR untuk memilih. Asal tujuannya baik, menurut Azrul, hal itu tidak masalah.

Dia menambahkan, kegiatan Pramuka itu standar. Semua kegiatan kepanduan dasarnya adalah dari Baden-Powell. Pada intinya Pramuka itu mengajarkan perbuatan baik setiap hari, seperti rela dan ikhlas menolong orang sekitar.

Yang menyedihkan adalah anak-anak sekadar memakai baju Pramuka tanpa dikenalkan dengan bagaimana seorang Pramuka itu. Padahal dalam Pramuka diajarkan nilai-nilai hidup.

"Dengan Pramuka ada kesibukan sehingga tidak ada waktu berpikir macam-macam, tidak terjebak dengan narkoba, bisa berlatih kepemimpinan. Pramuka tulen itu tegas dan santun," imbuh Azrul.

Azrul yakin, kegiatan komparasi seperti yang dilakukan Panja Kepramukaan pasti ada manfaatnya. "Kalau mereka anggap itu perlu untuk bikin RUU ya nggak apa-apa. Layak saja," lanjutnya.

UU ini penting, mengingat selama ini dasar hukum Pramuka hanyalah Keppres. Padahal di banyak negara seperti Bangladesh, India, Afrika Selatan sudah memiliki UU Pramuka.

"Mereka sudah punya UU semua. Ini penting agar Pramuka sebagai organisasi pendidikan, bukan organisasi kepemudaan diakui oleh UU. Kenapa diatur UU? Karena peranan besar dalam pembentukan karakter, jadi perlu pengaturan," sambung Azrul.

(vit/mok)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2010/09/15/182748/1441309/10/kwarnas-berharap-panja-pramuka-dpr-selesaikan-uu-usai-studi-banding?n991103605
read more “Kwarnas Berharap Panja Pramuka DPR Selesaikan UU Usai Studi Banding”

Pramuka Indonesia Terpinggirkan karena Dianggap Produk Orba


Jakarta - Meskipun banyak dilirik negara lain sebagai contoh, namun sulit ditolak popularitas Pramuka di Indonesia terus merosot. Hal ini karena Pramuka dianggap produk peninggalan Orba.

Saat reformasi digulirkan, Pramuka di Indonesia seakan redup. Pramuka seolah dipinggirkan dengan berdirinya pandu-pandu baru yang berbasis kelompok tertentu. Maklum, masih ada yang berpandangan Pramuka adalah peninggalan Orde Baru.

"Pramuka menjadi dipinggirkan seperti Posyandu. Ada upaya mendirikan pandu baru, karena Pramuka dianggap produk Orde Baru," kata Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Prof. Dr. dr. Azrul Azwar kepada detikcom, Rabu (15/9/2010).

Meskipun jumlah anggota Pramuka di Indonesia besar yakni 17 juta orang, namun Azrul mengakui adanya kemunduran kegiatan bila dibandingkan saat masa Orde Baru. Setelah disadari akibat Pramuka tidak jalan jadi banyak anak-anak yang tawuran, berkelahi, terkena narkoba, dan sebagainya barulah Presiden SBY merevitalisasinya pada 2006.

"Kita memperbaiki kurikulum, metode pendidikan Pramuka, materi, juga membenahi gugus depan," imbuh Azrul.

Ditambahkan dia, metode pendidikan Pramuka adalah dengan memanfaatkan alam terbuka, bukan pendidikan seperti kuliah. Bentuknya adalah dengan menggunakan macam-macam permainan seperti morse, tali temali, dan mencari jejak.

"Kita juga sudah mulai mengembangkan pelatihan kepada Pramuka yang memberikan manfaat untuk pekerjaan, misalnya pelatihan komputer," lanjut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia ini.

Pramuka Indonesia adalah Pramuka yang besar. Sebab anggotanya mencapai jumlah 17 juta. Sekitar 1,5 juta di antaranya adalah orang dewasa yang bertindak sebagai pembina.

Nasib Pramuka mencuat setelah Komisi X DPR membuat Panja RUU Pramuka. Panja ini studi banding ke Jepang dan Korsel yang organisasi kepanduannya berhasil dan ke Afsel, yang kepanduannya tidak berkembang. Hasil studi banding ini digunakan untuk penyusunan RUU Pramuka.

(vit/nrl)
Sumber: http://www.detiknews..com/read/2010/...ap-produk-orba
read more “Pramuka Indonesia Terpinggirkan karena Dianggap Produk Orba”

Kamis, 22 Juli 2010

Hidup, Belajar Dari Kesalahan



Pikiran manusia memang sulit untuk dikendalikan, Dalam hidup, terkadang kita banyak mengunakan pembenaran untuk hal yang sebenarnya salah / kurang baik, dalam hal ini adalah karena untuk pembelaan terhadap diri sendiri.
Dan terkadang kita tidak dapat melihat kebenaran dan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain, yang dalam hal ini dikarenakan oleh iri hati atau ketidaksukaan pribadi.
Sulitnya melihat kebaikan sebagai kebaikan, kesalahan sebagai kesalahan.
semua dikarenakan sangat sulit untuk menilai diri sendiri,
Sulit membangkitkan kebaikan di dalam diri, dan sulit mengendalikan kesalahan diri sendiri.

Apapun itu selama kita dapat mempelajari sifat-sifat kita, menyadari semua kesalahan kita, dan berusaha untuk mengubah diri kita kearah yang benar dan positif, semua adalah baik adanya dalam hidup kita.
Tidak ada orang yang selama hidupnya tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi kita dapat belajar dari kesalahan. Apapun harus dapat diterima, apapun harus mau dipelajari ( dalam konteks hal yang positif ). maka kita akan menjadi lebih baik lagi.

Walaupun sulit tetapi harus di praktekkan, jangan berhenti sampai ditengah jalan harus berjuang agar hidup kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi ( better and better).
mari kita bersama-sama melangkah dalam kemajuan hidup bukan sebaliknya.
Sadari semua orang memiliki kelebihannya sendiri, memiliki kekurangannya sendiri dan harus terus berusaha untuk bersama-sama saling mendukung dan memotivasi.

Ini ada cerita renungan tentang seekor anak burung unta yang ingin belajar terbang,. Dia merasa malu karena orang tuanya dan kelompoknya tidak bisa terbang, sedangkan sejak dilahirkan dia sering sekali mengamati burung-burung lain yang dapat terbang kesana-kemari.
Sedangkan hidup mereka hanya bisa berlari kesana-kemari, menari dan berputar-putar.
Akhirnya ketidakpuasan akan hidup pun melanda dirinya.

Dia pun pergi meninggalkan komunitasnya dan berguru pada burung gereja. Kawanan burung gereja pun menertawakannya dan mereka meninggalkan anak burung unta itu sendirian.
Anak burung unta tersebut pantang menyerah, terus mencari guru baginya untuk bisa terbang, dan pergi menemui kawanan burung beo, burung beo pun berkata: ”Aku sejak lahir sudah punya sayap, tetapi aku hanya dilatih untuk bicara, hidup dalam kandang bagaimana bisa terbang, orang membutuhkan suaraku, bukan keindahanku dalam mengepakan sayapku.”

Lalu anak burung unta tersebut, masih penasaran dengan guru yang mungkin dapat membantunya belajar terbang dia pun mencari burung elang, Burung elang dengan sombongnya berkata:” Lihat badanmu yang begitu besar, bagaimana kau bisa membawa badanmu yang berat itu untuk mengarungi angkasa raya? Sudah jangan bermimpi…. Pulang saja sana!”
Masih pantang menyerah dan pergi menemui burung nazar (burung pemakan bangkai).

Lalu Kawanan burung nasar itu senang dengan hadirnya burung unta yang bodoh itu sebab dia adalah santapan lezat untuk mereka. Mereka pun berkata: ”Hai anak burung, Kami akan mengajarimu terbang, tetapi kamu harus terbang dari puncak bukit ini dan terjun ke jurang dibawah sana dengan mengepakan sayapmu. Sekarang belajar dulu di daratan ini untuk mengepakan sayapmu, kemudian berlari sekuat tenaga untuk terbang melewati puncak tebing ini sampai di puncak tebing seberang ”

Apa yang terjadi? Burung onta itu jatuh ke dalam jurang dan menjadi mangsa empuk bagi para burung nazar yang kemudian berpesta pora.
Seandainya burung unta itu mendengarkan nasihat orang tuanya, maka ia akan baik-baik belajar tarian burung unta, dan akan hidup dengan bahagia menghibur semua orang di kebun binatang dengan keanggunan tariannya, membuat dirinya dihargai sebagai burung ‘balerina’ dan ‘penari handal’, atau pun sebagai ‘burung pelari marathon’ . Tetapi semua berubah mengenaskan karena kebodohannya dan ketidakpuasan dirinya.



http://rahasia-masa-depan.blogspot.com/2009/10/hidup-belajar-dari-kesalahan.html
read more “Hidup, Belajar Dari Kesalahan”

Selasa, 20 Juli 2010

Jiwa Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin mesti mempunyai ruah, roh atau jiwa kepemimpinan. Berikut ini paparan mengenai “jiwa” yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. “Jiwa” tersebut antara lain:

Orang yang mau belajar…belajar dan belajar terus menerus.

Mengapa seorang pemimpin perlu senantiasa belajar? Alasannya amat sederhana. Seorang pemimpin, dalam banyak hal, ia berhadapan dengan orang banyak. Orang yang dihadapi tersebut memiliki berbagai macam karakter dan pembawaan hidup. Mereka juga memiliki keunikan hidup tersendiri. Dengan kemauan untuk belajar terus menerus, diharapkan seorang pemimpin mampu mencerap dan menjabarkan kemauan institusi ataupun kemauan bawahannya, rakyat yang beraneka ragam.

Selebihnya, kemauan untuk belajar itu juga harus dimunculkan dari dalam diri pemimpin setiap saat. Belajar untuk mengenal siapa yang dipimpinnya, dan yang lebih penting lagi adalah belajar mengenal diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri bahkan penghargaan akan diri sendri, tidaklah mungkin seorang akan mengenal dan menghargai orang lain yang dipimpinnya. Atau dalam bahasa lain, kata Confusius, seperti dikutip Seputar Indonesia (5 Juni 2009, hlm.1) “hargailah diri anda maka orang lain akan menghargai anda”.

Seorang pemimpin juga perlu belajar akan arti penting “kehadiran” orang lain [yang dipimpin], dalam kehidupannya . Belajar untuk menghargai “kehadiran” orang lain inilah yang memperkaya dirinya secara pribadi, dan memungkinkan dirinya untuk semakin berkembang secara maksimal (bdk. Robert E.Vallet, 1989:108-114).

Orang yang menghargai waktu dan bawahannya-yang dipimpin.

Ada seorang motivator sekaligus penulis terkemuka asal Amerika serikat, Harvey MacKay. Kata-kata mutiaranya yang sangat menarik untuk kita simak, seperti yang dikutip Seputar Indonesia (26 April 2009, hlm.1) “Waktu itu gratis, tapi sangat berharga. Kamu tidak akan dapat memiliki, tapi dapat memanfaatkannya. Kamu tidak dapat menyimpan, tapi dapat menghabiskannya. Sekali kehilangan, kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali”.

Jika dalam hal yang paling sederhana; menghargai waktu, seorang pemimpin tak dapat melaksanakannya, besar kemungkinan, bahwa seorang pemimpin tersebut juga tak dapat menghargai orang-orang yang dipimpinnya. Sekedar contoh, seorang pemimpin, melalui sekretarisnya mengundang beberapa karyawannya untuk rapat jam 8.00 pagi. Ketika rapat tiba, jam 8.00 sang pemimpin belum datang. Ia datang satu jam kemudian. Satu jam, bagi para karyawannya adalah waktu yang berharga. Seorang pemimpin dituntut untuk dapat menghargai waktu sekaligus dapat mengendalikannya (bdk.James Spillane, 2003:71-84).

Orang yang sanggup mengomunikasikan ide, gagasan kepada orang lain dengan jelas.

Seorang pemimpin sering menjadi “arah - batu penjuru” untuk sebuah organisasi. Kadang ia harus juga harus mengambil keputusan. Maka seorang pemimpin juga perlu belajar mengomunikasikan segala bentuk keputusan yang telah diambilnya. Kemampuan ini tentu juga ditunjang sikap rendah hati, bahwa dirinya [seorang pemimpin] bukan sumber kebenaran, tetapi penyampai kebenaran. Semakin pemimpin mampu mengomunikasikan ide - gagasannya dengan baik, semakin pula kepemimpinannya efektif (bdk. HAW. Widjaya, 2008:25-26). Kemampuan berkomukasi tersebut sering didukung, salah satunya oleh penguasaan bahasa yang baik [bahasa yang komunikatif] dan penguasaan akan karakteristik yang akan menerima pesan (Widjaya, ibid, hlm.26).

Dalam cara pandang tertentu, komunikasi seorang pemimpin lebih “diwajibkan” untuk menggunakan bahasa “kemanusiaannya” dari pada bahasa “kekuasaannya” . Seorang pemimpin lebih diharap untuk dapat mengerti dan memahami siapa yang dipimpinnya, daripada “merengek” untuk minta dipahami dan dimengerti.

Orang yang berpikir ke depan (futuristik).

Seorang pemimpin adalah seorang yang berpikir ke depan. Untuk itu ia perlu kreatif. Ia kreatif dan tak mudah putus asa menghadapi hidup. Ia juga kreatif dalam mencari terobosan-terobosan baru untuk kemajuan institusi ataupun kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan, menurut Abdurrahman Wahid (2006:97) “orientasi seorang pemimpin terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin” .

Orang yang mempunyai skala prioritas.

Seorang pemimpin mesti mempunyai skala prioritas, mana yang penting, perlu dan harus (mendesak) dikerjakan lebih dahulu. Skala proritas ini juga berhubungan dengan sesuatu hal yang baik, dan benar untuk dilaksanakan. Bisa jadi, ada suatu hal yang baik dan benar untuk dikerjakan, tetapi apakah hal tersebut penting, perlu dan mendesak untuk segera dikerjakan. Disinilah fungsi pertimbangan akal budi yang jernih. Akal budi memilah, membedakan dan memutuskan akan suatu hal sebagai penting, perlu dan mendesak untuk ditindaklanjuti atau tidak.

Catatan: Artikel ini saya olah dari berbagai sumber, saya kirim dan dimuat di Media Advokasi Anak & Keluarga “WARDAS”, edisi XXIV, Juni 2009, hlm. 17-18. Semoga bermanfaat.

http://edukasi.kompasiana.com/2009/11/15/jiwa-seorang-pemimpin/
read more “Jiwa Seorang Pemimpin”

Rabu, 14 Juli 2010

Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega “Antara ada dan tiada”


Gerakan Pramuka beberapa saat lagi akan memasuki usia yang 44 tahun sejak berdirinya pada tahun 1961. Usia 44 tahun jika seorang manusia adalah usia yang telah cukup matang dalam kehidupan, usia yang telah merasakan asam garamnya kehidupan dan yang pasti banyak pengetahuan dan pengalaman hidup serta bijaksana dalam bertindak.

Jika difilosofikan usia 44 tahun merupakan masa-masa bijaksana dimana selalu berusaha mengerti lebih dahulu baru dimengerti. Jika dikaitkan dengan kondisi Gerakan Pramuka saat ini, banyak ketidak sesuaian di segala sudut pandang. Disadari atau tidak ini merupakan efek dari pola pembinaan selama ini.

Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah calon-calon penerus yang dibina dalam Gerakan Pramuka yang seharusnya memiliki peranan penting dalam organisasi ini. Tapi kenyataannya, sedikit sekali porsi yang diberikan untuk berperan dalam gerak orgnisasi yang notabennya adalah organisasi pendidikan kaum muda. Hal ini berdampak pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para penegak dan pandega. Sedikit sekali yang menimbulkan manfaat nyata bagi Pramuka Penegak dan Pandega serta masyarakat. Karena kurangnya ekspresi dari para Penegak dan Pandega itu sendiri, ini merupakan indikasi dari Pramuka Penegak dan Pandega hanya diperbantukan saja. Apalagi dalam wadah pembinaan yang ada, para Pramuka Penegak dan Pandega hanya berfungsi sebagai pelengkap saja bukan merupakan bagian terpenting dari wadah tersebut.

Sejak diberlakukannya AD/ART Gerakan Pramuka tahun 2005, memang telah terlihat porsi untuk berperan yang diberikan kepada para Penegak Pandega namun hal ini belum dibarengi dengan pembinaan yang seimbang serta arahan yang efektif.


Saya yakin para Penegak saat ini masih belum memahami maksud dari Penegak itu sendiri berada. Karena masih melekatnya tradisi usang yang terus dipakai turun temurun dalam pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega sekarang. Sehingga menimbulkan dampak yang sangat berpengaruh sekali terutama di masyarakat. Pramuka Penegak dan Pandega saat ini cenderung mengeksklusifkan diri dari pergaulan masyarakat dan kegiatannya pun belum sepenuhnya bermanfaat nyata bagi masyarakat. Dan ini mengesankan bahwa Pramuka Penegak dan Pandega itu ada kegiatannya namun tiada manfaatnya secara konkrit baik terhadap Penegak Pandega itu sendiri maupun masyarakat.

Hal tersebut menimbulkan keprihatian yang serius karena jika terus berlanjut maka Pramuka Penegak Pandega yang diharapkan dapat meneruskan cita-cita perjuangan bangsa yang membawa bangsa ini menuju kemerdekaan yang sebenarnya hanyalah khayalan belaka.

Maka dari itu, kita sebagai Pramuka Penegak dan Pandega wajib memahami fungsi dan tugas kita sebagai Pramuka Penegak dan Pandega. Dengan memahami fungsi dan tugas kita dapat melaksanakan segala kegiatan dengan terarah dan bermanfaat nyata.

Dari segi kuantitas pun Pramuka Penegak dan Pandega mengalami kecenderungan menurun setiap tahunnya, karena kegiatan-kegiatan Pramuka Penegak dan Pandega semakin tiada kegiatannya yang berarti, kalaupun ada hanya sebatas ‘yang penting ada’ kegiatan. Sehingga tidak memiliki semangat untuk memotivasi para Pramuka Penegak dan Pandega.

Coba sekarang hitung jumlah anggota Pramuka Penegak yang ada di sekolah masing-masing, paling banyak tidak lebih dari 20 orang saja dan yang aktif pun bisa dihitung dengan jari. Kalau pun ada banyak sifatnya terpaksa ikut karen diwajibkan atau jumlah keseluruhan dari kelas 1 sampai dengan kelas 3. Nah, ini merupakan indikator dari kurang efektif dan bermanfaatnya kegiatan Pramuka Penegak yang masih menggunakan pola ‘usang’ yang diwariskan turun temurun. Belum lagi jika kita kaji materi-materi pembinaan yang ada saat ini, semuanya sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi jaman sekarang atau tidak ‘up to date’. Maka jangan heran jika kegiatan Pramuka Penegak dan Pandega saat ini tidak ‘ngetrend’ lagi bagi anak muda.

Apalagi kegiatan Kepramukaan di perguruan tinggi, jika tidak ada inovasi kegiatan maka tidak akan ada kegiatan kepramukaan diperguruan tinggi.


Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai Pramuka Penegak dan Pandega ?

Anda sendiri yang dapat menjawabnya. Saya akan berikan pilihan, ‘INOVASI atau MATI’. Jadi tidak salahkan, jika saya memberi judul di atas Pramuka Penegak dan Pandega “Antara ada dan tiada” . (terinspirasi dari sebuah judul lagu)

Jika memang tidak ingin disebut demikian maka harus ada tindakan nyata dari kita selaku Pramuka Penegak dan Pandega. Jangan hanya bicara saja, perencanaan penting tetapi jauh lebih penting menindak lanjuti rencana tersebut menjadi sebuah tindakan nyata dan bermanfaat. Saya jadi teringat sebuah iklan di televisi yang menggugah kesadaran saya, bahwa pemikiran, keinginan dan harapan tak akan terwujud tanpa diawali dengan sebuah tindakan kecil yang dilakukan terus menerus. Dan hal ini membutuhkan keberanian melawan rasa takut yang ada pada diri kita sendiri.


Meminjam istilah iklan tersebut, saya mencoba menggugah kesadaran kita semua sebagai Pramuka Penegak dan Pandega untuk berbuat nyata bagi kehidupan kita yang tentunya bermanfaat nyata bagi semuanya. Tujuanmu adalah masa depanmu. Meminjam istilah ulama kondang mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini juga.

Mari kita berikan yang terbaik semampu kita sebagai Pramuka Penegak dan Pandega, jika bukan kita, siapa lagi yang mau merubahnya ?


Disampaikan Oleh Sri Hendana ( http://danascouting.blogspot.com/2008_01_01_archive.html )
read more “Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega “Antara ada dan tiada””

Mengenal tentang Penegak dan Kepenegakkan


Apa sih Penegak itu ?

Penegak secara etimologi berasal dari kata dasar ‘tegak’ menurut kamus bahasa Indonesia artinya berdiri dan diberi imbuhan pe- yang mempunyai makna ‘menjadi’. Apabila disatukan mempunyai arti menjadi berdiri atau menjadi tegak atau bisa dikatakan yang menegakkan. Diharapkan Penegak disini dapat berdiri tegak sendiri dengan kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri tentunya dengan arahan orang dewasa.

Apabila kita mengingat sejarah perjuangan bangsa maka kata ‘Penegak’ itu diambil dari masa-masa menjelang kemerdekaan bangsa Indonesia hingga puncaknya yaitu saat diproklamasikannya kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Inilah masa dimana bangsa Indonesia menjadi tegak, berdiri menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Namun dalam masa menegakkan eksistensinya sebagai Bangsa yang merdeka dan berdaulat, selalu ada tantangan hembusan angin yang kencang yaitu pergerakan untuk sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia, untuk diakui sebagai bangsa yang merdeka dengan jerih payah sendiri, pergolakan yang terjadi di dalam negeri pun ikut mewarnai tegaknya bangsa ini. Untuk itulah, akhirnya istilah tegak digunakan dalam Gerakan Pramuka sebagai kiasan dasar perjuangan bangsa agar generasi muda Indonesia dapat menghargai perjuangan para pahlawan bangsa dan menegakkan terus cita-cita proklamasi bangsa Indonesia.

Jika merujuk pada pola pembinaan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega maka Penegak adalah masa masa latihan bakti dan masa-masa persiapan pengabdian yaitu masa menerapkan hasil latihan yang telah didapat selama dalam masa latihan bakti. Maka Penegak disini digambarkan sebagai kader yang dipersiapkan untuk dapat memberikan sumbangsih bagi masyarakat luas. Tentunya tergantung dari proses latihan yang dijalankan selama masa kepenegakan, hasil yang diperoleh dapat menjadi tolak ukur kualitas latihan Penegak.

Yang selama ini terjadi masa-masa latihan Penegak seperti halnya latihan pada golongan Pramuka Penggalang. Entah disadari atau tidak hal ini sudah menyimpang dari yang digariskan dalam pola pembinaan. Hal ini ditunjukan semakin merosotnya jumlah Pramuka Penegak pada saat ini. Persepsi yang berkembang dalam masyarakat bahwa Pramuka Penegak sama saja halnya seperti Pramuka Penggalang karena dilihat dari latihan yang dilakukan. Padahal latihan Penegak tidaklah seperti latihan Penggalang bahkan jika teman-teman Penegak menyadari bahwa masa Penegak adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Lho kok bisa begitu? Benar. Karena pada masa Penegak, kita bisa berekspresi menunjukan kualitas diri dan menggali potensi yang dimiliki. Latihan-latihan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan Penegak itu sendiri, tentunya berdasarkan pola pembinaan yang ada. Dan yang paling mengerti kebutuhan Penegak adalah Penegak itu sendiri. Apalagi sekarang telah dirubah istilah perserta didik bagi Pramuka Penegak menjadi anggota muda dan Pramuka Pandega mejadi anggota dewasa muda. Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam membangun masyarakat menjadi “Mitra Bakti” artinya Pramuka Penegak diberikan posisi sebagai partner atau mitra dalam berbakti membangun masyarakat dan bangsa ini. Hal ini perlu dikaji kembali dan disosialisaikan kepada para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega agar mengetahui hal ini.

Kapan bisa jadi Penegak ?

Saat seseorang dapat dikatakan menjadi seorang Penegak adalah saat di telah memenuhi syarat baik itu syarat kecakapan umum atau pun dari segi usia. Seseorang dapat menjadi Penegak, saat berusia 16 tahun sampai dengan 20 tahun (berdasarkan AD/ART Gerakan Pramuka), dan telah memenuhi syarat kecakapan umum Pramuka Penegak Bantara dan telah dilantik menjadi Pramuka Penegak Bantara. Maka Seorang Pemuda dapat disebut sebagai seorang Penegak Bantara. Namun hal ini tidaklah sesuai dengan apa yang terjadi pada saat ini. Dan hal tersebut disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Dalam Pola Pembinaan disebutkan ada 2 tingkatan dalam Pramuka Penegak yaitu Pramuka Penegak Bantara dan Pramuka Penegak Laksana.

Penegak Bantara adalah orang muda yang sadar akan dirinya, sadar akan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat dan mampu menjadi bagian antar komponen masyarakat. Disadari atau tidak, Penegak Bantara adalah pelopor bagi kemajuan masyarakat, pelopor bagi perubahan yang bermanfaat. Hal ini perlu disadari oleh seluruh Penegak Bantara.

Penegak Laksana merupakan pelaksana jati dirinya agar mampu mengaplikasikan semua potensi yang dimiliki untuk jadi yang terbaik bagi dirinya dan berguna bagi masyarakat sekitarnya. Memberikan sumbangsih nyata dengan berkarya nyata dan memahami tujuan hidupnya. Seorang laksana yang mampu melaksanakan apa yang menjadi impian dan cita-citanya. Seorang yang mampu bermitra dengan semua komponen masyarakat dan seorang pemimpin dari apa yang dilaksanakannya serta dapat bertanggung jawab atas semua yang dilaksanakannya.

Setelah menempuh semua kecakapan umum yang ada dalam penegak, alangkah lebih baik jika seorang Penegak menempuh kecakapan khusus yaitu Penegak Garuda. Pramuka Penegak Garuda adalah salah satu kecakapan khusus yang bergengsi dalam dunia Penegak. Namun saat ini hal tersebut berubah menjadi hal yang menakutkan entah karena apa, para Penegak sepertinya enggan untuk meningkatkan kualitas diri dengan menempuh syarat kecakapan Pramuka Penegak Garuda. Hal ini menjadi sesuatu yang sulit sekali ditempuh dan seakan-akan menjadi sesuatu yang nggak akan bisa ditempuh, sesuatu yang sakral. Padahal Penegak Garuda merupakan cerminan kualitas diri penegak. Tidak ada yang sulit jika ingin dilaksanakan. Persepsi yang berkembang di kalangan para Penegak bahwa sulit sekali untuk menempuh Penegak Garuda karena harus selalu benar dalam bertindak dan bertingkah laku, akan selalu menjadi sorotan apabila melakukan hal-hal yang tidak benar. Memang benar persepsi tadi namun hal tersebut tidaklah mutlak karena Pengertian Pramuka Penegak Garuda itu sendiri adalah Seorang Penegak yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi Penegak Garuda, seorang Penegak yang mampu mengendalikan dirinya dan mampu berbuat yang terbaik bagi yang lainnya. Dan hal ini bisa dilakukan oleh semua orang, tentu saja diniatkan dalam hati serta dilaksanakan melalui perbuatan dan tindakan yang nyata sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hal ini tidak mengikat bahwa seorang Pramuka Penegak Garuda haruslah selalu benar, pengertian seperti ini dangkal sekali bagi seorang yang telah beranjak dewasa. Seharusnya dengan menempuh Penegak Garuda, seorang Penegak dapat mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Jika aturan yang berlaku mengatur hal tersebut terlalu kaku, dikembalikan lagi pada sosok seorang Pembina Pramuka Penegak yang harus mampu mengarahkan dan memotivasi para Pramuka Penegak agar bisa menempuh dan menjadi Pramuka Penegak Garuda. Ujian-ujian yang dilakukan pun harus disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dan kemampuan Penegak itu sendiri. Kalau ingin para penegak ini tumbuh berkembang menjadi kader-kader bangsa yang siap melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa.

Penegak itu ada dimana sih ?

Dalam sebuah gugus depan lengkap, semua golongan Pramuka ada mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega. Namun hal ini jarang sekali ditemukan, seolah-oleh saat ini gugus depan terkotak-kotak. Kedudukan gugus depan itu sendiri menjadi rancuh dan mengikuti pola institusi sekolah, ada gugus depan yang berpangkalan di sekolah dasar (SD) yang didalamnya hanya ada Pramuka Siaga dan Penggalang sekolah dasar, gugus depan yang berpangkalan di Sekolah Menegah Pertama (SMP) hanya terdapat Pramuka golongan Penggalang, Di SMA/SMK/MA hanya ada Pramuka golongan Penegak sedangkan Pramuka Pandega seakan–akan hanya ada di Perguruan Tinggi saja. Adapun Gugus depan lengkap atau biasa yang disebut Gudep teritorial tapi terkadang menjadi eksklusif dan hanya diperuntukan untuk beberapa kalangan saja. Hal ini jelas sekali banyak terjadi kesimpang siuran tentang pengertian Gudep lengkap dan Gudep territorial. Bagaimanapun juga harus ada yang berani meluruskan jika ingin Gerakan Pramuka di Indonesia berkembang dan maju. Untuk apa diterbitkannya petunjuk penyelenggaraan yang mengatur tentang Gugus depan jika tidak dilaksanakan sesuai dengan petunjuk penyelenggaraan tersebut. Walaupun sebenarnya semua itu harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Namun semua ini kembali kepada siapa yang mau memahami tujuan dari diadakannya Gugus Depan itu sendiri.

Saat ini kwartir nasional sedang mensosialisaikan istilah Gugus Depan berbasis masyarakat. Karena melihat kondisi Gerakan Pramuka yang secara umum mengalami penurunan. Gerakan Pramuka yang selama ini dianak emaskan oleh Pemerintah kini harus survive menjaga kelangsungan hidupnya. Sebenarnya Gugus depan itu sendiri tidaklah harus berada pada institusi sekolah, gugus depan dapat didirikan di mana saja asal memenuhi persyaratan tentang berdirinya suatu Gugus Depan. Apalagi jika gugus depan ini ada di masyarakat maka peran dan fungsi gugus depan itu dapat diarahkan untuk kemajuan masyarakat. Walaupun saat ini sudah ada gugus depan yang berbasis masyarakat namun jumlahnya masih terhitung sedikit sekali. Apabila Gerakan Pramuka mau berbenah diri memperbaiki sistem dan personal dalam Gerakan Pramuka itu sendiri maka akan dirasakan kemajuannya.



Sebagai seorang Pramuka Penegak diharapkan dapat menjadi pilar dan pendobrak kearah kemajuan dan mampu menjadi sosok yang bisa dijadikan teladan dalam masyarakat.

Dalam dunia Penegak dan Pandega ada yang disebut sebagai wadah pembinaan yaitu Ambalan, Racana, Dewan Kerja, Satuan Karya, Kelompok Kerja dan Sangga Kerja.

Ambalan adalah wadah pembinaan bagi para Penegak di tingkat Gugus Depan, merupakan satuan Penegak yang terdiri dari Penegak, calon Penegak dan Tamu ambalan. Untuk menggerakan ambalan dibentuk Dewan Ambalan yang terdiri dari semua Penegak yang telah dilantik. Dewan Ambalan dipimpin oleh seorang Pradana. Tugas dari Dewan Ambalan adalah merencanakan, melaksanakan program berdasarkan keputusan Musyawarah Penegak. Apabila diperlukan, Dewan Ambalan dapat membentuk sangga kerja untuk melaksanakan program-programnya.

Racana adalah wadah pembinaan bagi Pramuka Pandega di tingkat Gugus Depan.

Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah wadah pengembangan kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega di tingkat kwartir, beranggotakan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega, bersifat kolegial dan merupakan bagian dari kwartir yang mengelola Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega

Satuan Karya adalah wadah pembinaan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk menambah ketrampilan dan pengetahuan khusus, beranggotakan para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang pada saat tertentu mengikuti secara langsung kegiatan satuan karya.

Kelompok kerja adalah wadah pembinaan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk belajar dan mengembangkan suatu ilmu pengetahuan dan ketrampilan tertentu guna kebutuhan suatu program, beranggotakan Pramuka Penegak, Pramuka Pandega, Pembina, Pelatih dan orang-orang yang dianggap mampu dan ahli dalam suatu bidang ilmu atau ketrampilan tertentu untuk membuat perencanaan dalam suatu program kegiatan dari Ambalan, Racana atau Dewan Kerja.

Sangga Kerja merupakan wadah pembinaan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk melaksanakan suatu program kegiatan, beranggotakan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang mempunyai tugas melaksanakan program kegiatan Ambalan, Racana atau Dewan Kerja.

Nah sekarang teman-teman sudah tahu dimana ada Penegak. Mudah-mudahan bisa menjadi pengetahuan bagi teman-teman Penegak yang lain. Agar bisa mengaplikasikan dan memanfaatkan wadah-wadah pembinaan yang ada.

Kenapa harus jadi Penegak ?

Salah satu alasan yang mungkin bisa diterima oleh semuanya adalah karena kita sebagai anak bangsa yang ingin membawa bangsa ini maju dan besar, tidak ingin bangsa ini terpuruk dan terpecah belah. Dengan menjadi Pramuka Penegak berarti kita dapat dan telah melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa serta memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara. Karena kita sebagai pemuda Indonesia yang cinta tanah air dan bangsa, sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa ini. Salah satu alasan yang paling sederhana adalah karena kita ingin memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Selain itu, manfaat menjadi Pramuka Penegak adalah kita dapat berekspresi sesuai keinginan kita karena salah satu prinsip kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah dari, oleh dan untuk dengan bimbingan orang dewasa. Kita juga dapat mengembangkan potensi kepemimpinan dan ketrampilan sesuai hobi/bidang yang diminati. Dengan begitu pola pikir dapat berubah menjadi lebih dewasa dan berkembang sesuai potensi yang kita miliki.

Siapa yang jadi Penegak ?

Pada prinsipnya untuk menjadi Pramuka Penegak adalah pemuda yang sudah dilantik menjadi anggota Gerakan Pramuka dan telah memenuhi syarat untuk menjadi Pramuka Penegak. Untuk masuk menjadi anggota Pramuka tidak dipaksakan, bahkan masuk dengan sukarela dalam arti mereka masuk karena mereka suka Pramuka dan rela tanpa adanya paksaan serta rela mematuhi aturan yang berlaku dalam Gerakan Pramuka.

Siapapun yang menjadi Pramuka Penegak harus mengerti dan memahami arti Penegak itu sendiri. Dengan berpedoman pada prinsip dari oleh dan untuk penegak itu sendiri dengan bimbingan orang dewasa, Pramuka Penegak dapat merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan kegiatan yang dibutuhkan oleh Penegak itu sendiri. Para Penegak diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang Pramuka Penegak. Namun jangan sampai aktualisasi diri yang kebablasan, oleh karena itu peran dan fungsi orang dewasa dibutuhkan sebagai kontrol.

Singkatnya, semua pemuda Indonesia yang berusia 16 s.d 20 tahun berhak untuk menjadi anggota Gerakan Pramuka khususnya Pramuka Penegak.

Bagaimana jadi Penegak ?

Proses untuk menjadi Pramuka Penegak tidaklah sulit dan akan saya gambarkan sesuai dengan pola pembinaan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.

Pelaksanaan proses pengembangan ini dimulai dari Tamu Penegak yaitu seorang Penggalang yang karena usiannya dipindahkan dari pasukan penggalang ke Ambalan Penegak, atau pemuda yang berusia 16 s.d 20 tahun yang belum pernah menjadi anggota pada suatu Ambalan Penegak. Lamanya menjadi tamu penegak ini minimal 3 bulan dan selama menjadi tamu penegak diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang berlaku di Ambalan tersebut. Dan bagi anggota Ambalan lainnya diberi kesempatan untuk mengenal dan menilai Tamu Penegak tersebut.



Setelah dirasa cukup, maka seorang Tamu Penegak yang dengan sukarela menyatakan diri sanggup mentaati peraturan dan adat Ambalan, dan diterima oleh semua anggota Ambalan untuk menjadi anggota Ambalan tersebut, menjadi seorang calon Penegak. Lamanyanya minimal 6 bulan dan perpindahan status dari Tamu Penegak menjadi calon Penegak dilaksanakan dengan upacara sederhana dan dialog yang mengandung pendidikan bagi segenap anggota Ambalan tersebut.

Calon harus mawas diri dan menghargai orang lain serta menyadari hak dan kewajibannya, antara lain :

· Tidak mempunyai hak suara dalam musyawarah

· Mempunyai hak bicara dalam diskusi, pertemuan dan musyawarah

· Harus mengikuti segala acara Ambalan yang bersangkutan sesuai dengan kondisinya.

· Berkewajiban menyelesaikan SKU tingkat Penegak Bantara

· Berkewajiban ikut menjaga dan mengembangkan nama baik Ambalannya

Seorang calon Penegak yang telah memenuhi SKU bagi Penegak Bantara dan mentaati adat Ambalan dapat menjadi Penegak Bantara. Perpindahan dari calon Penegak menjadi Penegak Bantara dilaksanakan dengan upacara pelantikan, yang bersangkutan mengucapkan janji Tri Satya dengan sukarela dan berhak memakai tanda tingkatan untuk Penegak Bantara. Selama menjadi Penegak Bantara diberi kesempatan latihan membuktikan diri kepada masyarakat dan membentuk kepribadian yang kuat.

Seorang Penegak Bantara wajib tetap melanjutkan latihan dan kegiatan lainnya untuk:

v Menyelesaikan SKU bagi Penegak Laksana sehingga dapat dilantik sebagai Penegak Laksana.

v Menempuh Syarat Kecakapan Khusus sesuai dengan kesenangan dan bakatnya sehingga mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus.

v Mengembangkan bakat dan minatnya di dalam satuan karya serta menyebarkan misi sakanya itu sesuai dengan kemampuannya.

v Mencari kesempatan untuk mengikuti Kursus Pembina Pramuka Mahir sehingga dapat membantu menyelenggarakan kegiatan di perindukan siaga atau pasukan penggalang.

v Berperan serta dalam memberikan bantuan kepada kwartir sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada padanya.

Penegak Laksana ialah Penegak yang telah memenuhi SKU Penegak Laksana dan mentaati adat Ambalan. Perpindahan dari Penegak Bantara menjadi Penegak Laksana dilaksanakan dengan upacara kenaikan tingkat dengan mengucapkan ulang janji Tri Satya dengan sukarela dan berhak memakai tanda tingkatan untuk Penegak Laksana.

Dalam tingkat Penegak Laksana, seorang Penegak Laksana wajib tetap melanjutkan latihan dan kegiatannya bahkan dikembangkan terus untuk :

v Menambah jumlah bobot dalam menempuh syarat kecakapan khusus sehingga mendapatkan tanda kecakapan khusus yang lebih tinggi.

v Memperdalam dan memperluas keikutsertaannya di dalam satuan karya.

v Mengikuti kursus yang diselenggarakan oleh Gerakan Pramuka.

v Memberikan kesempatan untuk membaktikan dirinya dengan membantu menyelenggarakan latihan atau kegiatan untuk pramuka siaga atau Pramuka Penggalang.

v Berperan serta dalam memberikan bantuan kepada kwartir sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada padanya.

Penulis : Sri Hendana
read more “Mengenal tentang Penegak dan Kepenegakkan”

Rabu, 23 Desember 2009

Koin untuk Prita & Kepedulian Pramuka (Coins for Caring Prita & Scouts)



Kasus yang menimpa seorang ibu rumahtangga bernama Prita Mulyasari, jelang akhir tahun 2009 ini jadi berita hangat. Cerita, tanggapan, komentar tentang kasus ini jadi buah bibir di tengah masyarakat. Seiring dengan itu, memancing kepedulian terhadap Prita karena sudah tercipta anggapan bahwa wanita ini sedang terzalimi, sehingga perlu dibantu bersama. Bertolak dari itulah lahirnya Gerakan mengumpulkan uang recehan (koin), guna pembayar denda sebesar Rp240 juta, setelah palu hakim berdentang menghukumnya.

Dentang palu hakim itu tentu hanya terdengar seputar ruang sidang. Namun gaungnya terdengar ke seluruh pelosok Nusantara. Menggetarkan relung-relung hati jutaan orang yang mendengarnya. Justru itu, adanya gerakan menyumbangkan uang recehan mendapat simpati masyarakat. Mereka seperti berlomba ikut serta menyumbang, tanpa memilah status sosial dan profesi. Baik tua muda, mahasiswa, pelajar, pejabat, rakyat jelata, ibu rumahtangga, pegawai negeri, pekerja swasta, buruh, penarik becak, pedagang, anak jalan bahkan juga anak taman kanak-kanak. Apakah ada di antara penyumbang itu yang pengurus atau anggota pramuka? Sampai tulisan ini ditulis belum ada publikasinya. Mungkin saja partisipasi pramuka sudah ada pula di sini, namun bukan atas nama lembaga, tetapi secara perseorangan. Asumsi itu cukup beralasan. Karena pada darma ke 5 ‘Dasa Darma’ Pramuka disebutkan : “ Pramuka itu tabah dan suka menolong.” Dalam jiwa Pramuka oleh pembinanya ditanamkan berbagai kepedulian, baik terhadap lingkungan apalagi kepedulian terhadap sesama insan. Semangat itu diwujudkan dalam bentuk berbagai pengabdian yang disebut ‘bakti.’

Dengan prasangka baik bahwa Pramuka sudah ikut peduli pada nasib Prita Mulyasari, apakah kita sudah puas begitu saja? Menurut hemat penulis seharusnya tidak. Tetapi harus ada tindak lanjutnya. Gerakan Koin Peduli Prita tersebut bisa jadi pemicu lahirnya inspirasi untuk mencontohnya. Kenyataan itu sudah menunjukkan bahwa cara pengumpulan uang recehan itu bisa jadi salah satu ‘model’ upaya mendapatkan dana untuk membantu orang yang lagi menderita.

Dalam hal ini, bukan berarti kini kita menganjurkan agar sekarang pengurus Kwarda 03 Sumbar maupun 18 Kwarcab Pramuka yang ada di provinsi ini membuka pula Posko Koin untuk Frita. Tidak! Sekali lagi tidak. Karena kalau itu baru dilakukan sekarang, sudah terlambat. Gerakan Pramuka ini bisa dinilai orang sebagai latah untuk menjadi ‘pahlawan kesiangan.’ Soalnya, sampai tanggal 20 Desember 2009, konon sudah terberita di televisi bahwa dana untuk pembayar denda akibat apa yang dianggap ‘kesalahan’ Frita itu sudah mencapai Rp825 juta. Berati sudah jauh melampaui target yang hanya Rp240 juta.

Tetapi ‘model’ untuk mengumpulkan sumbangan seperti ‘Gerakan Koin untuk Frita’ tersebut patut ditiru. Sekarang momentumnya cukup tepat. Ranah Minang baru saja digoncang gempa dahsyat. Akibatnya sudah sama kita ketahui. Banyak yang porakporanda. Lebih 1000 orang yang meninggal dunia. Ribuan rumah yang hancur dan rusak. Ratusan sekolah dan fasilitas umum lainnya yang ambruk. Tidak heran banyak airmata yang tumpah. Baik karena kehilangan rumah maupun karena anak tidak bisa lagi sekolah. Bisa saja karena ada pelajar yang kehilangan ayah sang pencari nafkah dan sebagainya. Semuanya mendambakan uluran tangan dermawan yang mau bermurah hati membantu mereka. Sementara bantuan di masa tanggap darurat tak mengalir lagi. Lalu apa gerakan Pramuka Peduli dan Pramuka yang peduli itu sekarang?

Barangkali ada alasan bahwa wacana meniru Gerakan Koin Kepedulian untuk Prita itu tidak tepat di Sumbar. Alasan mereka karena kasusnya berbeda. Tetapi perlu diingat, antara gempa dahsyat yang memporakporandakan Sumbar tidak kalah getarannya dibanding bunyi palu hakim saat menjatuhkan vonis terhadap Prita Mulyasari. Sama mengundang keprihatinan, sama menyedihkan, sama menggugah hati masyarakat.

Justru itu, sebenarnya cukup alasan bila Pramuka mengadakan ‘Gerakan Pengumpulan Koin Peduli Pasca Gempa.’ Kita optimis akan bisa menggugah hati masyarakat. Setidaknya dari kalangan Pramuka itu sendiri. Jika memang seluruh pelajar mulai dari SD, SLTP dan SLTA di Sumbar yang sekali seminggu berseragam pramuka benar-benar anggota Pramuka, tentu takkan berat menyumbangkan uang recehan mereka Rp500 seorang. Begitu pula mahasiswa yang jadi Pramuka di gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi. Jumlah yang terkumpul akan cukup banyak. Jika dihitung pelajar dan mahasiswa yang anggota pramuka di Sumbar rasanya takkan kurang dari satu juta orang. Jika dikalikan dengan Rp500 saja, bisa terhimpun dana Rp500 juta. Suatu jumlah yang cukup besar untuk menunjukkan bukti nyata sebuah bakti pramuka. Mungkin saja dalam bentuk pembangunan satu atau dua lokal sekolah yang ambruk, atau untuk bedah rumah korban bencana yang kini masih sengsara tinggal di tenda.

Persoalannya sekarang, siapa yang akan memprakarsai terwujudnya ‘Gerakan Koin Peduli Gempa’ ini. Apakah Ka Kwarda Sumbar atau para Petinggi di Kwarda tersebut? Untuk menyukseskan sebuah missi termasuk kegiatan seperti ini memang harus dimiliki tiga hal.

Pertama ‘kemauan.’ Sebuah beban yang ringan saja tidak mungkin diangkat, kalau seseorang tidak ‘mau’ mengangkatnya.

Kedua, ‘kemampuan’. Dalam hal ini patut dipertanyakan apakah Kwarda Sumbar yang sekarang dipimpin oleh seorang Gubernur tidak mampu membuat gerakan sosial ini?

Ketiga, ‘kesempatan.’ Apakah jajaran Pramuka terlalu sibuk dengan kegiatan rutin organisasinya sendiri, sehingga tak sempat lagi melirik ke luar untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap apa yang terjadi di negeri ini? Lalu dimana lagi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ‘Dasa Darma’ yang selalu jadi acuan dan rujukan setiap gerak kehidupan Pramuka itu? Apakah janji dan Dasa Darma yang diucapkan setiap acara pelantikan Pengurus Pramuka itu hanya sebagai ‘buah bibir’ permainan kata saja lagi?

Kesimpulannya, kita berharap agar pengurus terutama petinggi Pramuka di daerah itu bisa terketuk hatinya untuk memprakarsai ‘Gerakan Koin Peduli Pasca Gempa’ di Sumbar. Jika wacana ini jadi kenyataan, anggota Pramuka yang terdaftar sebagai anggota ‘Brigade Penolong’ atau ‘Pramuka Peduli’ patut berada di garis depan sebagai relawannya. Namun perlu pula diingatkan, agar sedia murni sebagai relawan tanpa pamrih. Diingatkan demikian, karena sudah menjadi kebiasaan dalam kegiatan pramuka panitianya bisa mendapat ‘uang lelah’ alakadarnya. Sedangkan dalam kegiatan ini, khusus dan perlu gerakan yang luar dari biasa, karena gempa yang melanda Sumbar kali ini luar biasa pula. Justru itu, jerih payah sebagai orang yang terlibat mengumpulkan koin ini, cukup Allah SWT saja yang membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Amin!

Memang kita tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu atau oknum yang akan mengambil keuntungan dalam gerakan ini. Misalnya, rumah masyarakat yang dibangun dengan dana ‘koin peduli gempa’ ini, kemudian dia laporkan sebagai bantuan pemerintah. Sementara bantuan yang turun dari pemerintah itu sendiri dikorupsinya.

Untuk menghadapi kemungkinan itu, serahkan saja pada pihak berwenang mengawasinya, termasuk pada LSM yang peduli terhadap korban gempa. Sedangkan Pramuka tetaplah konsisten mengacu pada Dasa Darma Pramuka itu sendiri. Dalam kaitan ini, ingatlah ‘darma’ ke sepuluh yang bunyinya:
“Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.”

Dengan demikian kita bisa memelihara semangat patriotisme yang berkobar di dada masing-masing sebagai insan Pramuka. Sesuai dengan hymne Pramuka dan pandu ‘ibu pertiwi.’ Camkanlah! Salam Pramuka!

Cases affecting a housewife named Prita Mulyasari, 2009 ahead of the end of this hot news. Stories, responses, comments about this case so lips in the community. Along with that, provoked concern because it was created Prita assumption that this woman was terzalimi, so that needs help with. Starting with the birth of the Movement's collecting coins (coins), to paying a fine of Rp240 million, after a judge struck hammer to punish him.

The clang of the judge's gavel sounded just around the courtroom. But the echo sound to all corners of the archipelago. Thrilling recesses of the hearts of millions of people who heard it. That is, the movement of coins donated public sympathy. They are like a race to participate contribute, without any sort of social status and profession. Both young and old, student, students, officials, common people, housewives, civil servants, private sector workers, laborers, rickshaw pullers, vendors, street children and even children in kindergarten. Do any of the contributors to the management or scout? Until this paper was written there has been no publication. Participation might have some scouts here, but not in the name of the institution, but as individuals. The assumption was quite reasonable. Because the darma to 5 'Dasa Darma' Scout says: "The Scout is brave and helpful." In Scouting spirit instilled by coach of concern, both for the environment much less concern for fellow beings. Spirit manifested in the form of service called "devotion."

With a good prejudice that had joined the Boy Scouts regardless of the fate Prita Mulyasari, whether we are satisfied with it? According to the opinion of the writer should not. But there must be follow-ups. Caring Coins Prita movement may be triggering the birth of inspiration for mencontohnya. The fact it was shown that the way to collect coins that could be one of the 'model' efforts to get funds to help people who suffer anymore.

In this case, does not mean we now recommend that a committee now and Kwarda 03 Sumbar 18 Kwarcab Scouts in the province is open to all Posko Coins Frita. No! Once again no. Because if it was just done today, it's too late. Scouting can be considered as a talkative person to be a 'hero late.' You see, until December 20, 2009, allegedly terberita on television that the funds for paying a fine due to what is considered 'mistakes' Frita was already reached Rp825 million. Means has far exceeded the target of only Rp240 million.

But the 'model' to collect donations as 'Movement for Frita Coins' is enviable. Enough momentum right now. Minang realm just devastating earthquake rocked. Have the same result we know. Many porakporanda. Over 1000 people died. Thousands of houses destroyed and damaged. Hundreds of schools and other public facilities collapsed. No wonder many tears are shed. Whether the loss of home or because the child can no longer school. It could be because there are students who lose the breadwinner father and so on. Everything crave generous helping hand that will help them generously. While assistance in the emergency response was flowing again. So what Scouting and the Boy Scouts Care that cares now?

Perhaps there is a reason that the discourse copying Concern for Movement Coins Prita was not right in West Sumatera. The reason they are because the case is different. But keep in mind, the powerful earthquake that ravaged West Sumatera no less vibration than the sound when the judge dropped the hammer on Prita Mulyasari verdict. Just invite concern, just pathetic, just to inspire people's hearts.

That is, in fact enough reason when the Boy Scouts held a 'Movement Caring Coins Collection Post Earthquake.' We are optimistic will be able to inspire people's hearts. At least from the Scouts themselves. If indeed all students ranging from elementary, junior and senior high school in West Sumatra in uniform once a week which really scout scouts, would not the weight of their coins donated Rp500 one. Similarly, students who become Scouts in gugusdepan based in universities. The amount collected will be quite a lot. If the count of school and university students in West Sumatra scout it would not be less than one million people. If multiplied by Rp500 course, can accumulate Rp500 million fund. An amount large enough to show clear evidence of a Boy Scout service. Perhaps only in the form of construction of one or two local schools that collapsed, or for surgical house disaster victims who are still miserable living in a tent.

The question now, who will initiate the establishment of 'Caring Coins Movement Earthquake' this. Does he or the Kwarda Sumbar Kwarda the officer in? For the success of a mission, including such activities must have three things.

First 'wishes.' A light load may not be appointed, if someone does not 'want to' lift.

Second, the 'capability'. In this case is questionable whether Kwarda Sumbar now led by a governor is not able to make these social movements?

Third, 'a chance.' Does Scout ranks are too busy with routine activities of the organization itself, so no time to glance out to show their concern over what happens in this country? Then where more noble values contained in the 'Dasa Darma' which is always a reference and referral every movement of life that the Boy Scouts? Is the promise and Dasa Darma spoken every Scout Board inauguration ceremony was just as 'lips' just another word game?

In conclusion, we wish to particularly high-ranking officials in the area Scouts can terketuk him to initiate the 'Caring Coins Movement Post Earthquake' in West Sumatera. If this discourse into a reality, members of the Scouts who are registered as members 'Brigade Helper' or 'Boy Scouts Care' should be at the forefront as a volunteer. Should also be reminded, however, that purely as a volunteer willing to unconditionally. Reminded that, as was customary in the Scouts activities committee can get 'compensation' spurious. While in these activities, special and needs to move out of the ordinary, because the earthquake that hit West Sumatra this time is also extraordinary. Thus the efforts of those involved collecting these coins, just enough to God Almighty who responded with a double reward. Amen!

Indeed we do not close the possibility of certain parties or others who will take advantage of this movement. For example, homes built with public funds 'coin matter earthquake' is, then he's report as government assistance. While aid is down from the government itself dikorupsinya.

To face the possibility that, leave it to the authorities over him, including the NGOs that care for earthquake victims. Scouts remain consistent while referring to the Dasa Darma Scouts themselves. In this regard, remember 'darma' to the ten that said:
"Scripture in thought, word and deed."

Thus we can maintain the spirit of patriotism that burned in their breasts as a human being Scouts. In accordance with the Boy Scouts and scout hymn 'motherland. "Keep in mind! Salam Scouts!








Padang, 20 Desember 2009



Penulis adalah Pemimpin Media Pramuka
read more “Koin untuk Prita & Kepedulian Pramuka (Coins for Caring Prita & Scouts)”

SEJARAH RINGKAS PERJUANGAN PESAWAT PEMANCAR RADIO YBJ-6 DI KABUPATEN TANAH DATAR ( STRUGGLE Brief History PEMANCAR AIRCRAFT RADIO YBJ-6 IN FLAT LAND



BAPAK SOEKARNO sebagai PRESIDEN RI dan BUNG HATTA sebagai WAKIL PRESIDEN RI, Mendapat informasi bahwa Belanda akan melancarkan serangn umum, maka beliau membuat surat kepada Mr. SYAFRUDIN PRAWIRA NEGARA yang ketika itu berada di Bukittinggi, Mandat tersebut menyatakan kalau dalam keadaan ibukota R.I Gawat. Maka harus dibentuk PEMERINTAH DARURAT R.I (PDRI) di Bukittinggi dan Mr. SYAFRUDIN PRAWIRA NEGARA sebagai PRESIDEN-nya. Kemudian bapak SOEKARNO HATTA juga membuat mandat kepada Mr. A.A MARAMIS yang sedang berada di NEW DELHI INDIA yang isinya kalau keadaan darurat didalam negeri supaya dibentuk PDRI di luar negeri dan Mr. A.A MARAMIS dicadangkan sebagai PRESIDEN.

Pada hari Minggu tanggal 29 Desember 1948 kota Bukittinggi dibumi hanguskan oleh Belanda dan lokasi Pesawat Pemancar Radio YBJ-6 merupakan sarana utama tidak luput dari seragam BOM Angkatan Udara Belanda, berkat pertolongan ALLAH SWT Pemancar radio YBJ-6 terhindar dari kehancuran dan segera diungsikan ke daerah Payakumbuh tepatnya di Halaban di kaki gunung sago dibawah pimpinan Mayor D.S ARDIWINATA, didaerah inilah pada tanggal 26 Desember 1948, susunan kabinet PDRI dilengkapi yang sebelumnya tidak sempat dilengkapi karena keadaan gawat. Didalam susunan kabinet PDRI tersebut ditunjuk Mr. A.A MARAMIS sebagai Menteri Luar Negeri PDRI, dan untuk menghubungi Mr. A.A MARAMIS satu-satunya jalan adalah melalui pesawat YBJ-6.

Selanjutnya crew Pemerintah PDRI dengan crew telekomunikasi pesawat YBJ-6 berpisah jalur perjuangannya, yaitu aparat Pemerintah menuju KOTO TINGGI dan crew YBJ-6 mennuju arah LINTAU/PAUAH TINGGI, namun ketika masih dalam persiapan untuk mengoperasikan, mata mata Belanda telah mencium keberadaan pesawat YBJ-6 didaerah ini, maka tidak ada alasan selain memindahkan pesawat secepatnya. Lalu dibawalah pesawat YBJ-6 BODI BALAI TANGAH, untuk mengamankan pesawat YBJ-6 didaerah ini dibuatlah suatu taktik yakni di pasang Bendera Merah ditiga jurusan yaitu jurusan payakumbuh, jurusan Pato dan jurusan Buo, taktik ini ternyata tidak berhasil karena mata mata Belanda juga dapat mencium keberadaan pesawat YBJ-6.

Pesawat YBJ-6 lalu diungsikan kembali ke daerah KAPALO ALAI SEROJA lubuk jantan jauh dipedalaman, sehingga waktu berada disini pesawat YBJ-6 dapat beroperasi lebih kurang seminggu. Waktu beroperasi disini dapatlah kontak dengan pesawat INDIA, tetapi belum sempat menyampaikan berita pengangkatan Mr. A.A MARAMIS sebagai Menteri Luar Negeri PDRI. Rupanya kurir BELANDA sangat lihai dan mengetahui persemmbunyian pesawat YBJ-6, keadaan semakain gawat Angkatan Udara belanda menembaki dan membom kecamatan lintau buo termasuk lokasi yang dicurigai sebagai tempat disembunyikannya pesawat YBJ-6.

Pusat Pemerintahan PDRI lintau buo dipindahkan ke BALAI TANGAH dan Pesawat YBJ-6 diungsikan ke LAREH AIE yang terletak diseberang batang sinamar. Pesawat ini digotong oleh masyarakat melalui jalan setapak menuruni tebing yang curam dan melalui JEMBATAN GANTUNG SOPAN, kemudian barulah sampai dirumah INYIAK SOMA (alm), yaitu sebuah RUMAH GADANG BATANDUAK LIMO (5) terletak di parak durian. Disinilah pesawat YBJ-6 dapat beroperasi dengan aman dan lancar selama lebih kurang tiga (3) bulan (januari s/d maret 1949).

Untuk kelancaran roda pemerintahan PDRI Kecamatan Lintau Buo serta pasukan TNI dan sukarelawan di Medan Perang dengan kesadaran tinggi dan semangat juang 45 rakyat lintau buo dengan jujur menyerahkan iuran perang/pajak melalui DATUK PALO (wali nagari) dan camat. Bukan itu saja, RAKYAT secara bergiliran menyediakan NASI BUNGKUS setiap hari, untuk makan TNI dan Sukarelawan dimedan tempur yang dikoordinir oleh petugas dapur umum, bahkan ada diantara masyarakat Lintau Buo dengan sukarela membantu dengan TERNAK untuk BIAYA PERANG melawan Belanda.

Pada tanggal 26 Januari 1949 barulah dapat disampaikan berita pengangkatan Mr. A.A MARAMIS secara empurna dan utuh, setelah konfrensi PAN ASIA selesai Mr.A.A.MARAMIS bersama kawan-kawanya terbang ke Amerika untuk menghadap sekjen PBB menyampaikan bawah NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ) masi utuh, akhirnya sekjen PBB mengakui keberadaan NKRI dibawah kepemimpinan SYAFRUDIN PRAWIRA NEGARA.

Sementara Itu keadaan di Lintau Buo sangat gawat, untuk mengatasi bahaya dari pihak Belanda maka kecamatan Lintau Buo dibantu oleh TNI dibawah pimpinan Letna AJIS LAKON dan pasukan Brimob dibawah pimpinan Inspektur Polisi ANIR SUNARYO dan ditambah pasukan sukarelawan PEMUDA MOBIL TERAS ( PMT ) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan serangan Belanda yang bermarkas di TALUK yang selalu mengintai dan ingin menghancurkan pesawat pemancar YBJ-6 disembunyikan di LAREH AIE.

Camat Militer kecamatan Lintau Buo yang bernama R.CIPTO memerintahkan supya masyarakat mengosokn Nagari Taluk, Tigo Jangko, Pangian, dan Buo. Rakyat harus mengunsi kehutan, sehingga tentara Belanda maju selalu mendapat serangan dari tentara kita.

Cerita ini berasal dari seorang saksi hidup yaitu Bapak H. Sutan Djamaris, Ketua DH Angkata 45 ranting Lintau Buo, yang diwaktu CLAS ke II tahun 1948 / 1949 bertugas pada kepolisian RI kecamatan Lintau Buo dobawah pimpinan AIP TASMAD. Oleh karena keberadaan Pesawat Pemancar Radio YBJ-6 tidak mungkin dipertahankan lagi di Lareh AIE karena kurir Belanda telah mengetahui tempat persembunyian ini, Maka pesawat ini diungsikan lagi kedalam melalui Talang, Sangki Tinggi, Koto Panjang, Tanjung Bonai Aua dan terus ke Tamparungo, Sumpur Kudus, Silantai, Unggan, Padang Lunggo, Tanjung Lansek, Pamasihan, Halaban dan setelah SISPIYER tanggal 11 Januari 1950 dibawa lagi ke Bukittinggi dan disimpan di MUSEUM PERJUANGAN BUKITTINGGI dan perjalanan aparat Pemerintahan PDRI, melalui jalur tersendiri tetapi hubungan komunikasi tetap ada dengan CREW Pesawat Pemancar Radio YBJ-6 karena CREW Aparat Pemerintahan PDRI mempunyai sebuah pesawat kecil yang dapat ditenteng.
Dengan di adakanya KONFRENSI di DENHAG BELANDA pada bulan Desember 1949, maka selesailah perperangan antara Indonesia dengan Belanda pada CLAS ke II. Oleh karena Jasa Pesawat Pemancar Radio YBJ-6 sangat besar dalam membela NKRI, maka muncul suatu pertanyaan, APAKAH PERLU DIBANGUN MONUMEN PEMANCAR RADIO YBJ-6 di LAREH AIE? Jawabnya

Perlu dibangun MONUMEN Nasional Pesawat Pemancar Radio YBj-6 di LAREH AIE Nagari Lubuk Jantan kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, iniakan menjadi bukti Fisik bawah RAKYAT KABUPETEN TANAH DATAR pada masa CLAS ke II tahun 1948 / 1949 telah berjuang mati-matian membela NKRI, dengan Cara Mengamankan Pesawat Pemancar Radio YBJ-6.

CTT: tulisan ini disadur dari tulisan Syakirin Putra LAREH AIE, Ketua Ranting Pemuda Panca marga Lintau Buo. Oleh Ir. Asrul Nurhasan

YOU Soekarno as President of the Republic of Indonesia and BUNG HATTA as VICE PRESIDENT OF RI, Getting the information that the Netherlands will launch a public serangn, so he made a letter to Mr. STATE PRAWIRA SYAFRUDIN that when it was in Bukittinggi, mandates that states if the state of RI Emergency capital. It must be formed GOVERNMENT EMERGENCY RI (PDRI) in Bukittinggi and Mr. STATE PRAWIRA SYAFRUDIN as its President. Then the father Soekarno Hatta also make a mandate to Mr. AA Maramis who was in NEW DELHI INDIA whose contents if domestic emergencies Emergency Government to set up overseas and Mr. A.A Maramis reserved as PRESIDENT.

On Sunday December 29 1948 the city of Bukittinggi hanguskan earth by the Dutch and the location of aircraft radio transmitter-YBJ primary means 6 is not spared from the Air Force uniform Dutch BOM, thanks to the help of Almighty GOD-YBJ radio transmitter 6 spared from destruction and immediately evacuated the area Payakumbuh precisely at the foot of the mountain Halaban sago under the leadership of Major DS ARDIWINATA, this area on December 26, 1948, the new cabinet is equipped Emergency Government had not previously provided for an emergency. In the new cabinet appointed by Mr. Emergency Government. AA Maramis as Minister of Foreign Affairs Emergency Government, and to contact Mr. AA Maramis the only way is through YBJ-6 aircraft.

The next crew to crew government telecommunications PDRI YBJ-6 aircraft separation line struggles, the government officials to KOTO and crew HIGH-YBJ direction mennuju Lintau 6 / PAUAH HIGH, but when I was in preparation for the operation, Dutch eye eye has kissed the presence plane-YBJ 6 of this area, there is no reason other than to move the plane as soon as possible. Then they brought the plane YBJ-6 body BALAI Tangah, to secure the YBJ-6 aircraft of this area was made a tactic that is in pairs of Red Flag is majoring ditiga PAYAKUMBUH majors, majors and majors Pato Buo, this tactic was not successful because the eyes of Dutch eyes can also kiss existence of YBJ-6 aircraft.

YBJ-6 aircraft and evacuated back to the depths SEROJA KAPALO male ALAI far hinterland, so that the time is here YBJ-6 aircraft can operate more or less a week. When it can be operated here INDIA contact with the plane, but have not had the appointment of Mr. news. A.A Maramis as Minister of Foreign Affairs Emergency Government. It seems very shrewd Dutch courier and know persemmbunyian aircraft YBJ-6, the state of emergency semakain Dutch air force firing and bombing Buo Lintau district including suspected locations where aircraft hide YBJ-6.

Emergency Government Government Center Lintau Buo moved to BALAI Tangah and YBJ-6 aircraft were evacuated to lareh AIE is situated opposite the stem sinamar. The aircraft carried by the public through a path down the steep cliffs and through COURTEOUS suspension bridge, and then got home INYIAK Soma (late), which is a BATANDUAK GADANG HOUSE LIMO (5) located in the interspace durian. Here YBJ-6 aircraft can operate safely and smoothly for about three (3) months (January to March 1949).

To smooth the wheels of government Lintau Buo District Emergency Government and the TNI troops and volunteers in the War with high awareness and morale Buo Lintau 45 people honestly give a war dues / taxes through DATUK PALO (village mayor) and sub-district head. Not only that, in turn providing PEOPLE rice packets every day, to feed military and combat diMedan Volunteers coordinated by the general kitchen worker, even among people Lintau Buo volunteered to help with ANIMAL WAR COSTS against the Dutch.

On January 26, 1949 can be submitted before the appointment of Mr news. AA in empurna Maramis and intact, after the conference finished PAN ASIA Mr.AAMARAMIS with friends kawanya fly to America to face the UN secretary general told the Homeland (the Unitary Republic of Indonesia) information intact, the UN secretary-general finally acknowledged the existence of the Republic of Indonesia under the leadership of PRAWIRA SYAFRUDIN STATE .

While the situation was very serious Lintau Buo, to overcome the dangers of the Dutch, then the district Buo Lintau assisted by military under the leadership of the play and Letna AJIS Mobile Brigade troops led by Police Inspector ANIR SUNARYO and volunteer troops plus YOUTH CAR TERAS (PMT) which has been prepared prior formerly with the Dutch attack based on TALUK always lurking and want to destroy aircraft-YBJ transmitter hidden in lareh 6 AIE.

Military Camat Buo Lintau district named R. Cipto ordered society mengosokn Nagari supya Taluk, Tigo Jangko, Pangian, and Buo. People should mengunsi kehutan, so the Dutch army forward is always under attack from our troops.

This story comes from a living witness of Mr. H. Sutan Djamaris, Chairman of the DH 45 branches Lintau Angkata Buo, which soften Clas II year 1948 / 1949 served in the police districts of RI dobawah Buo Lintau TASMAD AIP leadership. Because of the existence of Aircraft Radio Transmitter YBJ-6 can not be maintained longer in lareh AIE for the Dutch carrier has to know this hiding place, then evacuated again this plane into the Gutters, Sangki High, Koto Panjang, Tanjung Bonai Aua and continues to Tamparungo, Holy Sumpur , Silantai, Unggan, Lunggo Padang, Tanjung Lansek, Pamasihan, Halaban and after SISPIYER dated January 11, 1950 was brought back to Bukittinggi and stored at STRUGGLE MUSEUM BUKITTINGGI and government officials traveling Emergency Government, through its own channels of communication, but still there is a CREW Aircraft Radio Transmitter YBJ-6 because CREW Government Emergency Government officials have a small aircraft that can carry.
With the conference in adakanya DUTCH DENHAG in December 1949, then finished with perperangan between the Dutch in Indonesia Clas II. Because Services Aircraft Radio Transmitter YBJ-6 is very large in defense of the Republic of Indonesia, it appears a question, ARE BUILT TO RADIO monuments YBJ PEMANCAR-6 in lareh AIE? The answer

Need to build the National Monument Aircraft Radio Transmitter 6 in YBj-Nagari AIE lareh Males Lubuk North Buo Lintau district Tanah Datar, iniakan Physical evidence of the PEOPLE'S LAND KABUPETEN Clas Plain during the second year 1948 / 1949 has struggled to defend the Republic of Indonesia, Securing aircraft Way Radio Transmitter YBJ-6.

Note: This article adapted from the writings of AIE lareh Syakirin Son, Chairman of the Youth branch of the clan Lintau Panca Buo. By Ir. Asrul Nurhasan
read more “SEJARAH RINGKAS PERJUANGAN PESAWAT PEMANCAR RADIO YBJ-6 DI KABUPATEN TANAH DATAR ( STRUGGLE Brief History PEMANCAR AIRCRAFT RADIO YBJ-6 IN FLAT LAND”

Pengurus DKC Tanah Datar Masa Ke masa

Album Kenangan Kwarcab Tanah Datar


Waktu Tak Kan Kembali

Kelender

Ketua Mejelis Pembimbing Cabang

Ketua Mejelis Pembimbing Cabang
M. Shadiq pasadioe

Mejelis Pembimbing Cabang

Mejelis Pembimbing Cabang
ZULDAFRI DARMA

Mejelis Pembimbing Cabang

Mejelis Pembimbing Cabang
H. HENDRI ARNIS, B.S.B.A

Ketua Kwartir Cabang Tanah Datar

Ketua Kwartir Cabang Tanah Datar
Drs. Aulizul Suyib

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 2006-2011

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 2006-2011
Yhohannes Neoldy. ST

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 2002-2006

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 2002-2006
Naswardi

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1997-2022

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1997-2022
Anton Yondra

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1992-1997

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1992-1997
Bambang Herianto

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode1987-1992

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode1987-1992
Doni Frenky

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1982-1987

Ketua Dewan Kerja Cabang Periode 1982-1987
Ar Julis

Tinggalkan Jejak

Total Kunjungan

free counters

PLURK

CHATTING !!!

 

Label

Followers

Lencana Facebook